hai kamu,
atau aku bisa menyebut kamu dengan si dingin atau cahaya?
ah sudahlah bukannya itu tidak penting untuk sekarang?
wahai kamu yang dulunya adalah pelipur lara terbaikku
apa kabarmu disana?
tentunya aku berharap kamu dalam keadaan baik
kulihat kau berubah
tak sama lagi
bukan seperti yang kukenal dulu
sekarang seperti cahaya tak pernah ada lagi dimatamu
apa karena ia tak lagi denganmu?
dulu, aku menyerah dan membiarkan kau dengan dia
agar kau bahagia
karena rasaku bahagiamu bukan denganku
ku tau kau benci jarak, dan akupun begitu
kutitipkan kau padanya, agar harimu menyenangkan
lalu kulihat kau menjadi cahaya seutuhnya saat bersamanya
aku bahagia tentu saja, walaupun hati terdalamku mengatakan iri pada gadis itu
kini saat kudengar kabarmu tak lagi dengannya
aku tak ingin munafik hatiku bersorak untuk kabar itu
namun saat kulihat kau terpuruk tanpanya
aku mengutuk diriku sendiri karena telah membiarkanmu bersamanya
wahai kau yang namanya selalu kusebutkan dalam sepertiga malamku
kau adalah pria yang penuh cahaya, aku mohon jangan kau biarkan cahaya itu redup dalam dirimu
jika cahaya itu redup, siapa lagi yang akan menjadi cahaya di gelap gulitanya hidupku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar